DosenKarya

ETNOGRAFI VIRTUAL, RISET ALTERNATIF BAGI MAHASISWA KPI

Kegalauan dalam menentukan topik ataupun tema dalam tugas akhir tampaknya masih akan terus dirasakan oleh para mahasiswa tingkat akhir. Tentunya, mahasiswa tingkat akhir, dengan klasifikasi usia semester antara semester 7 sampai dengan semester 8. Paling tidak, kisaran ini diberikan secara lebih logis dengan mengalokasikan usia tempuh studi, yakni 4 tahun, sesuai dengan aturan dalam kurikulum yang digunakan pada masing-masing perguruan tinggi.

Tak terkecuali pada apa yang terjadi di program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) FUD IAIN Surakarta. Diharuskan untuk bersinggungan dengan jenis bidang-bidang praktis dalam komunikasi, prodi KPI muncul dengan distingsi mengenai keberadaan dakwah pada rujukan mata kuliah yang diajarkan. Dalam konteks ini, sadar atau tidak, kajian dakwah menjadi bidang khusus yang dimiliki oleh KPI sekaligus harus menjadi standing point berbeda dibandingkan dengan bidang keilmuan komunikasi reguler.  Namun demikian, dengan tetap berpegang pada dasar keilmuan komunikasi, KPI pun harus mampu bersaing dan menawarkan daya tarik layaknya bidang keilmuan komunikasi pada umumnya.

Bagi mahasiswa, memilih topik penelitian tidaklah dirasa instan. Tak jarang hal ini menjadi momok sekaligus pencapaian berbeda bagi para mahasiswa. Majority mahasiswa tentu memilih untuk melakukan riset yang mudah dan ringan—serta tidak perlu lama—tentunya. Manusiawi memang.

Siapa yang tidak ingin lulus dan mendapatkan ijazah dengan mudah tanpa harus bersusah payah karena memang sebelumnya, para mahasiswa telah menempuh studi yang terbilang tidak sebentar. Belum dengan biaya yang mungkin bagi sebagian mahasiswa juga tidak sedikit. Alhasil, skripsi ataupun tugas akhir menjadi terkesan “seadanya” tanpa kemudian ada esensi yang cukup terhadap fokus penelitian yang seharusnya memungkinkan untuk menghasilkan lebih. Terlepas dari, kondisi yang sangat dipahami bahwa setiap mahasiswa akan mengalami masa tugas akhirnya dengan cara dan upaya keras mereka masing-masing.

Alternatif isu dalam daring

Gawai dan internet, menjadi perangkat sekaligus sisi lain perkembangan yang akrab dengan mahasiswa saat ini. Mengutip pernyataan Kozinets (1999) pada tulisan Prakata buku milik Nasrullah (2018), our social worlds are going digital. As a consequences, social scientist around the world are finding that to understand society they must follow people’s social activities and encounters onto internet and through other technologically-mediated communications.

Internet merupakan pembentuk relevansi tentang bagaimana aktivitas dijalankan oleh setiap manusia dewasa ini. Setiap bidang kehidupan misalnya, tak jarang memerlukan internet sebagai sebuah kepraktisan, keringanan, sampai dengan anggapan efektivitas dan efisiensi waktu. Pun begitu dengan gaya berkomunikasi, internet mampu menjadi medium paling official untuk memberikan kemudahan dalam setiap akses yang dilakukan.

Lantas, apa kaitannya dengan tugas akhir mahasiswa? Sejumlah perilaku sosial pada dasarnya tidak serta merta hanya dapat diamati secara langsung saja. Keberadaan internet menjadi penyokong baru untuk memberikan warna baru tentang bagaimana masyarakat saling berinteraksi. Jika dahulu budaya dibentuk masyarakat atas dasar rasa, cipta, dan karya yang terwujud melalui mentifact, sociofact, maupun artefact, ketiganya mungkin identik dengan segala sesuatu yang terkondisikan secara langsung dan interpersonal. Sedangkan internet, nyatanya mampu mematahkan segalanya.

New media dan social media dipandang sebagai bagian dari gaya berjejaring baru bagi masyarakat. Imbasnya, muncul pertukaran budaya baru dalam setiap interaksi yang dilakukan di dalamnya. Jika budaya muncul dan dipengaruhi oleh adanya interaksi, maka dalam konteks platform yang berbeda, aktivitas berjejaring online juga memunculkan adanya interaksi daring di dalamnya. Sebut saja, dari maraknya aktivitas para fans dalam fandom pada beberapa fansite, fanpage, dan sejenisnya; perilaku keberagamaan followers dan ustaz seleb yang berceramah melalui Youtube dan Instagram; atau mungkin yang lebih dekat, bagaimana aktivitas daring melalui bentuk-bentuk aplikasi pembelajaran online mampu memfasilitasi perkuliahan mahasiswa bersama dosen dalam kondisi pandemik saat ini.

Sekedar memberikan masukan, entah kemudian diterima atau tidak, layanan daring yang mau tidak mau digunakan dalam kondisi saat ini seharusnya juga mampu dimanfaatkan mahasiswa. Ibarat aji mumpung, sambil rebahan, memikirkan nasib tugas akhir dengan membuka dan men-scroll beberapa konten media sosial dan media online seharusnya cukup membuat makna rebahan menjadi lebih produktif. Alih-alih rebahan dimaknai secara negatif, dalam satu sisi lainnya, mungkin rebahan bisa menjadi tren yang tidak hanya turut mencegah terdampak corona, melainkan juga mampu menghasilkan hasil karya yang fantastis, paling tidak sebatas ide atau konsep untuk membuat proposal skripsi.

Bagi mahasiswa akhir, semoga ini menjadi perenungan. Konsentrasi perkuliahan KPI khususnya, ada pada bagaimana proses komunikasi dapat dimaknai secara sederhana sekaligus kompleks. Jika kurang memungkinkan untuk mendapatkan data di lapangan, mengapa kita tidak memanfaatkan media online sebagai alternatif? Dalam aspek komunikasi pun, sah-sah saja apabila aktivitas di internet menjadi topik bahasan karena merupakan bagian dalam perkembangan teknologi komunikasi. Ini dekat dengan kita dan kerap kita akses sehari-hari sehingga aktivitas dalam ranah online seharusnya tidak sekedar untuk memenuhi paket hiburan saja. Asumsinya, pengusaha dapat bekerja dan menghasilkan uang hanya dengan duduk dan mengakses internet, mengapa tidak dengan kita yang mengakses internet untuk tujuan produktif memunculkan gagasan?

Spesifik lagi, coba lirik konteks etnografi virtual sebagai topik penelitian. Ide ini tidak baru sebenarnya, tetapi diharapkan dapat menjembatani kegalauan para mahasiswa akhir dalam kondisi saat ini. Alih-alih hanya memikirkan harapan apakah skripsi jadi dihapuskan atau tidak, lebih baik kalian melakukan sesuatu yang lebih bermakna dengan menyelesaikan tugas akhir sebagai bentuk tanggung jawab atas status mahasiswa yang diemban. Sekali lagi, ini tidak memaksa dan hanya sekedar masukan. Sehat selalu dan rahayu untuk kita semua.

Rhesa Zuhriya Briyan Pratiwi (Dosen Prodi KPI IAIN Surakarta)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *