HMPS

Lebih Jauh Mengenal Marco Kartodikromo

Senin, (20/04) Himpunan Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (HMPS KPI) melaksanakan kegiatan Bincang Buku Online karya Marco Kartodikromo dengan judul “JOURNALIST MARCO” merupakan salah satu prodak (program dakwah) HMPS KPI dilaksanakan pada hari Senin, 20 April 2020 dengan tema “ Peran media massa difase pergerakan anti-kolonialisme”. Pada acara bincang buku ini, panitia menghadirkan Yuni Firdaus (Mahasiswa Jurnalistik angkatan 2018 KPI IAIN Surakarta dan penulis buku memoar Bersama Ibu Tercinta) Sebagai narasumber sekaligus pembedah dari isi buku “Journalis Marco”.

Acara Bincang Buku Online dilaksanakan via grup whatsapp (group discussion) dilaksanakan  mulai Pukul 19.30acara dibuka oleh MC Nur Halimah (KPI 2019), kemudian sambutan dari M. Iqbal Kusuma selaku Ketua Umum HMPS KPI, dan sambutan selanjutnya dari Sekretaris Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Abraham Zakky Zulhazmi, M.A.Hum I, M.  dilanjutkan dengan inti acara, yaitu bincang buku online “ Journalist Marco” oleh Yuni Firdaus dengan dipandu oleh Ria Putri Utami sebagai moderator dalam memimpin acara bincang buku tersebut.

Ulasan mengenai buku “Journalist Marco” yang dipaparkan oleh narasumber diawali dengan pengakuannya bahwa buku ini menjadi bukti tentang peran media massa di fase pergerakan anti-kolonialisme atau yang disebut dengan istilah “Zaman Bergerak”. Menggambarkan kehidupan pers pada masa itu dan menjadi bukti tentang peran media massa di fase pergerakan anti-kolonialisme atau yang disebut dengan istilah “Zaman Bergerak”. Buku ini berisi 224 halaman dengan ukuran 13×19 cm diterbitkan  di Yogyakarta tahun 2017 nama penerbit octopus. Buku ini merupakan kumpulan tulisan Marco di empat surat kabar yang pernah diawakinya, yaitu Doenia Bergerak, Sinar Hindia, Sinar Djawa, dan Hidoep. Isinya beragam, dari soal politik, keorganisasian, keredaksian surat kabar, hingga syair. Hal yang menyambungkan setiap tulisan di buku ini adalah napas dan semangat anti-penjajahan yang selalu disampaikan oleh Marco. 

Menurut Narasumber, Mas marco menulisakan keresahannya karena penduduk pribumi kromo yang tidak punya apa-apa dipekerjakan begitu saja tanpa upah, bukan hanya membela penduduk pribumi  namun ia juga menceritakan sarekat islam di Solo sedang mencari kandidat pengurus sementara, ia juga menuliskan tentang dua orang belanda yang dilepas dari pekerjaannya lantara melakukan perasaan cinta sesama manusia yang ditindas.

Buku “ Journalist Marco” telah memperoleh berbagai tanggapan positif dari berbagai kalangan mulai dari jurnalis, dosen, bahkan sejarawan. Penyampaian materi oleh Narasumber telah usai, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Banyak peserta bincang buku online yang sangat antusias untuk bertanya. Peserta bincang buku online pun juga berasal dari berbagai Universitas, ada yang dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), IAIN Kudus, Universitas Negeri Jember (UNEJ), dan lain sebagainya. Semua Pertanyaan Tentunya, dibahas secara tuntas oleh Narasumber.

Sebelum kegiatan bincang buku online berakhir, Narasumber menyampaikan syair sekaligus pesan dari mas Mas Marco yaitu “Jadi jurnalis jaman sekarang berani dihukum dan dibuang, karena dia yang mesti menendang semua barang yang malang malang, jurnalis harus berani mati bekerja berat membanting diri, sebab dia hendak melindungi  pihak yang ditindasi. Jurnalis harus bisa berdiri sendiri juga yang keras sekali dan tidak boleh main komedi guna mencari enak sendiri”

Moderator juga menyampaikan kesimpulan dari kegiatan tersebut bahwa “Marco” sangat memberikan efek kepada rakyat indonesia pada masa itu karena dari bui dia bisa tetap menghasilkan tulisan-tulisan kerasnya, bahkan hal tersebut menjadi acuan jurnalis untuk membuat suatu Organisasi PWI. Seperti yang kita ketahui, jurnalis  bukan semata-mata perkerjaan menulis. Menjadi jurnalis berarti memang sudah siap bertanggung jawab atas apa yang ditulisnya dan siap membuktikan ke-validnya. Di era sekarang, dengan fasilitas tekhnologi yang bisa dibilang cukup canggih, harusnya kita juga cerdas dalam mempergunakanya. Memperbanyak literasi misalnya. karena tidak bisa dipungkiri mempelajari sejarah, mengikuti informasi isu-isu terkini, efeknya sangat bagus untuk memperluas wawasan kita.

Pada acara Bedah Buku moderator juga mengajak para peserta yang sudah berantusias didalam grup diskusi untuk meningkatkan minat  terhadap dunia literasi dengan cara memerangi rasa malas dengan gali nalar kritis Dan Harapannya, semoga bincang buku online tersebut bisa bermanfaat untuk kita semuanya.

Demikian Kegiatan bincang buku online berjalan dengan lancar dan ditutup pada pukul 22.00 WIB. Selamat Membaca dan Merdekalah (Maya/Hmpskpi20)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *